0

Menurut sebuah survei terbaru yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, 13% atau 1 dari 8 pengguna internet (netizen) tidak percaya bahwa serangan cyber itu nyata. Mereka merasa bahwa ancaman tersebut terlalu dilebih-lebihkan oleh perusahaan keamanan internet.

Ketidakpercayaan ini membuat mereka tidak memiliki perlindungan apapun terhadap risiko yang mengancam data mereka dan kehidupan maya setiap hari. Menurut statistik, pengguna internet yang memahami bahwa ancaman cyber adalah hal nyata bahkan tidak yakin mereka membutuhkan perlindungan terhadap ancaman ini.

Secara khusus, hanya 22% netizen yang percaya bahwa mereka dapat menjadi target penjahat cyber. Namun, pada kenyataannya setiap perangkat pengguna bisa menjadi target yang menarik bagi penjahat cyber.

Hampir sepertiga atau 32% dari netizen yang tidak merasa khawatir bahwa rekening onlinemereka bisa dikompromikan, atau bahkan tidak menyadari risiko ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah hal ini tidak hanya terjadi di akun pribadi mereka di jejaring sosial, tetapi juga di rekening perbankan online pribadi.

Sementara 42% dari netizen tidak menyadari atau tidak khawatir tentang kemungkinan kerugian tersebut. Satu hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa kerugian tersebut bukan berupa pencurian uang secara langsung dari rekening bank mereka.

"Para pengguna internet yang percaya bahwa diri mereka aman karena para penjahat cybertidak akan mengganggu mereka dan tidak tertarik terhadap mereka menunjukkan bahwa para pengguna internet tidak memahami sifat dari ancaman online tersebut," kata Elena Kharchenko, Kepala Manajemen Produk Konsumen Kaspersky Lab melalui keterangan resminya, Sabtu (8/11/2014).

Bukan itu saja, 20% netizen juga tidak menyadari bahwa menggunakan jaringan Wi-Fi publik itu berisiko karena data yang dikirim melalui jaringan tersebut dapat dicegat oleh penjahat cyber. Sedangkan 27% lainnya menyadari ancaman ini tetapi tidak percaya bahwa mereka perlu merasa khawatir tentang hal itu.

Pada saat yang sama, 55% netizen tetap menggunakan jaringan publik, 12% bahkan memasukkan identitasnya ke dalam website, dan 6% melakukan pembayaran online saat terhubung ke jaringan publik.

Post a Comment

 
Top